“Jika melihat angka mentah dan contoh striker besar sebelumnya, lihatlah Didier Drogba di Chelsea,” ujar Brassell. Ia menambahkan bahwa secara statistik, musim pertama Gyokeres berada di jalur yang serupa dengan awal karier Drogba. Menurutnya, manajemen Arsenal merekrut sang striker untuk proyek jangka panjang, bukan sekadar solusi instan satu musim.
Transisi yang Gyokeres jalani memang tergolong ekstrem. Dalam waktu singkat, ia melompat dari divisi kedua Inggris ke liga utama Portugal, lalu langsung menuju persaingan elite Premier League. Brassell menekankan bahwa faktor usia dan pengalaman Gyokeres saat ini sangat identik dengan kondisi Drogba ketika pertama kali menginjakkan kaki di Stamford Bridge.
Bagi Brassell, proses adaptasi adalah hal yang mutlak. “Gyokeres belum lama berada di level tertinggi. Saya sama sekali tidak menganggap dia sudah selesai atau gagal saat ini,” pungkasnya. Arsenal kini hanya perlu memberikan waktu bagi sang bomber untuk menemukan kembali insting membunuhnya di depan gawang.


