Inter Milan Siap Menghadapi Atalanta di Laga Serie A Selanjutnya

Cara Bermain

Inter di bawah kendali Inzaghi adalah sebuah mahakarya dari kekacauan yang teratur. Formasi 3-5-2-nya menjadi semacam selimut kenyamanan bagi para pendukung—sebuah sistem di mana bek sayap seperti Federico Dimarco dan Denzel Dumfries tak hanya berperan sebagai penyuplai bola, tetapi juga sebagai arsitek serangan. Itulah esensi “Inzaghiball”: permainan yang penuh umpan terobosan, mengundang tekanan lawan, lalu merobek pertahanan mereka dengan tajam bagai pisau panas menembus mentega.

Chivu, yang naik jabatan dari tim Primavera usai sempat melatih Parma dengan beban sejarah treble di pundaknya, mempertahankan kerangka 3-5-2 namun melakukan perubahan pada beberapa elemen penting. Jika Inzaghi dikenal pragmatis, Chivu justru tampil lebih berani—bahkan bisa dibilang nekat.

Perbedaan paling mencolok terletak pada lini pertahanan. Inzaghi cukup puas membiarkan trio bek veteran bertahan lebih dalam, mengandalkan penempatan posisi mereka untuk meredam ancaman. Chivu justru mendorong garis pertahanan itu maju sepuluh yard lebih depan.

Ia menginginkan Inter yang “vertikal”, yang mampu mencekik lawan di sepertiga lapangan mereka sendiri. Di bawah arahannya, Inter bermain dengan intensitas yang jarang terlihat sejak awal era Conte. Kehadiran Petar Sučić di lini tengah turut mendorong gaya ini; energi yang ditawarkan pemain muda itu mengisi kekuatan yang kadang mulai memudar dari Mkhitaryan yang telah menua.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Terbaru