Delapan tahun di Real Madrid, Vinicius Sudah Hadapi 20 Kasus Dugaan Rasisme

Reaksi Vinicius

Saat Vinicius bereaksi terhadap para penonton, sikapnya ditafsirkan sebagai arogan dan tak pantas. Padahal reaksi itu lahir dari sumber yang sama dengan protesnya melawan rasisme: perjuangan tanpa henti melawan lingkungan yang tak bersahabat. Frantz Fanon, dalam bukunya yang berpengaruh, Black Skin, White Masks, menulis, “Orang kulit hitam harus berjuang dua kali lebih keras untuk diterima sebagai manusia.”

Mungkin bagi Vinicius, beban ini menjelma menjadi kemarahan, ketegangan, dan gestur yang dari luar tampak berlebihan. Namun dari dalam, itu hanyalah upaya bertahan hidup.

Ketika media Spanyol menuntut Vinicius untuk “bermain dan diam,” mereka sedang menampilkan apa yang oleh sosiolog Amerika Eduardo Bonilla-Silva sebut sebagai “rasisme tanpa rasis”: sebuah kerangka budaya yang tak secara langsung menghina, tetapi menyalahkan korban atas reaksinya sendiri. Vinicius menolak diam.

Ia menjadi simbol global bukan hanya karena menghadapi diskriminasi, tetapi karena ia terus mendorong otoritas untuk memperketat protokol dan mengambil tindakan nyata.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Terbaru