Kritik Vinicius
Usai laga, Jose Mourinho, pelatih Benfica, bukannya mengecam pelaku, melainkan mengarahkan kritik kepada korban. “Para pemain berbakat ini mampu melakukan hal-hal indah, tetapi sayangnya mereka tidak hanya senang mencetak gol yang menakjubkan itu,” ucapnya kepada Amazon Prime Video Sport.
“Ketika Anda mencetak gol seperti itu, Anda merayakannya dengan cara yang penuh hormat.” Ia kemudian menambahkan bahwa Benfica mustahil menjadi klub rasis, dengan alasan sederhana: pemain terbaik mereka sepanjang masa, Eusebio, berkulit hitam.
Komentar Mourinho menjadi titik terendah baru. Namun yang lebih memprihatinkan, pernyataan itu mencerminkan kebuntuan perdebatan media, yang di Spanyol dan kini di Portugal, selalu berputar di tempat yang sama. “Ya, mereka menghinanya, tetapi dia seharusnya berperilaku lebih baik,” seolah menjadi mantra yang terus berulang. Seolah keduanya bisa dipisahkan. Seolah keduanya bukanlah satu kesatuan yang utuh.


