Dalam sebuah derbi Catalan yang berdenyut intensitas, Barcelona harus menanggung malam yang kelabu di kandang Girona. Lamine Yamal kali ini harus memendam kekecewaan ketika bola penalti yang ia lepaskan justru membentur tiang. Bola seolah enggan bersahabat dengan jala gawang. Momen itu menjadi epitome dari kegagalan kolektif Blaugrana untuk kembali ke singgasana La Liga, setelah perlawanan sengit Girona membuat mereka tumbang di kandang lawan.
Pasukan biru-merah, yang biasa hadir dengan percaya diri, kini harus tertinggal dua langkah di belakang bayang-bayang Real Madrid. Pada menit ke-86, dari bangku cadangan muncullah Fran Beltran, mencatatkan namanya di papan skor lewat gol yang memastikan tiga poin berpindah tangan. Sebuah hadiah yang tak hanya menghidupkan asa tuan rumah menjauh dari jerat degradasi, tetapi juga membuat zona aman terasa lebih dekat di pelukan.
Namun, gol kemenangan itu tak lepas dari riak protes. Para pengunjung Montilivi berteriak, mengira ada tangan-tangan kasar yang menjatuhkan Jules Kounde dalam proses terciptanya gol. Namun, teknologi VAR hanya butuh waktu sejenak untuk merestui, membungkam keberatan dan mengukuhkan takdir.
Sementara itu, Girona yang bermain dengan sepuluh orang setelah Joel Roca diusir keluar lapangan akibat tekel kerasnya pada Yamar di masa injury, tetap kokoh. Pertahanan mereka menjadi tembok yang tak jua jebol, membuat upaya Barcelona untuk menyamakan kedudukan sirna bersama peluit akhir. Kekalahan ini menjadi duri kedua dalam dua laga beruntun, mengingat empat hari sebelumnya mereka juga luluh lantak 0-4 di tangan Atletico Madrid. Kalahnya pun di laga penting, yakni dalam leg pertama semifinal Copa del Rey.


