Arsenal menyia-nyiakan keunggulan dua gol hanya untuk bermain imbang melawan tim juru kunci Liga Premier, Wolves. Peristiwa itu terjadi di Molineux, saat Wolves sukses menahan laju Arsenal. Dan dari sanalah pertanyaan besar mulai mencuat: apakah tim asuhan Mikel Arteta benar-benar siap secara mental mengakhiri dahaga gelar yang telah berlangsung selama 22 tahun?
Untuk pertama kalinya di musim ini, nasib perburuan gelar tak lagi sepenuhnya berada dalam genggaman mereka. Manchester City yang membayangi di posisi kedua dengan selisih lima poin, jika memenangkan seluruh 12 laga tersisa—termasuk pertemuan kandang melawan Arsenal—dipastikan akan keluar sebagai juara. Di sisi lain, pasukan Meriam London sendiri masih memiliki 11 pertandingan sisa, termasuk laga di Stadion Etihad pada April nanti yang akan menjadi penentu.
Namun dua hasil imbang beruntun melawan Brentford dan Wolves, yang memangkas empat poin krusial, membuat bayang-bayang masa lalu kembali menghantui. Tiga kali finis sebagai runner-up berturut-turut, dua di antaranya di bawah bayang-bayang Guardiola, menjadi memori yang tak mudah dilupakan. Mantan penyerang Arsenal, Alan Smith, bahkan menyebut bahwa “kata ‘botol’ akan banyak digunakan dalam beberapa hari mendatang.”
BACA JUGA: Leicester City Ajukan Banding Soal Pengurangan Poin


