Akar Masalah
Lalu, apa akar dari masalah ini dan seberapa dalam luka yang ditorehkannya di klasemen? Sebagai gambaran, Liverpool punya cerita manis di pengujung laga dengan tiga kemenangan berkat gol-gol dramatis, dua di antaranya bahkan terjadi di empat pekan awal musim. Namun, catatan buruk di akhir laga ini bagaikan kanker yang menggerogoti.
Andaikan gol-gol telat itu tidak pernah terjadi, tim asuhan Arne Slot kini telah mengoleksi 60 poin, nyaris mengamankan tiket ke Liga Champions. Kenyataan pahitnya, mereka justru tertahan di posisi kelima. Posisi itu mungkin masih cukup untuk bermain di kasta tertinggi Eropa musim depan, tapi keunggulan tipis satu poin atas Chelsea yang baru saja kalah, membuat segalanya belum selesai. Aston Villa di atas mereka pun tak luput dari kekalahan akhir pekan ini.
“Sebuah bencana besar dalam perburuan Liga Champions,” kecam Jamie Carragher, mantan bek Liverpool, dengan nada kecewa. “Kesempatan emas saat Aston Villa dan Man Utd saling berhadapan, sudah pasti salah satu dari mereka akan kehilangan poin. Saya sudah melihatnya sejak babak kedua. Mereka seperti berjalan sambil tidur. Liverpool benar-benar kacau.”
Arne Slot, nahkoda The Reds, tak menampik realita pahit ini. “Kami telah kebobolan terlalu banyak gol untuk mengumpulkan poin sebanyak yang biasa diraih klub ini dan saya,” akuinya. Kelemahan Liverpool bahkan tak hanya di menit akhir. Sejak menit ke-75, gawang mereka telah kebobolan 15 gol. Sebuah jumlah yang tak tertandingi oleh tim mana pun di liga dalam 15 menit terakhir pertandingan.


