Guillam Balague turut menyaksikan langsung ketika laga play-off Liga Champions antara Real Madrid dan Benfica harus terhenti selama sepuluh menit. Penyebabnya: Vinicius Jr melaporkan adanya dugaan pelecehan rasis. Bagi pemain Brasil berusia 25 tahun itu, ini adalah kali ke-20 ia merasa menjadi korban selama delapan tahun membela Los Blancos. Balague, pakar sepak bola Spanyol yang berada di lokasi, mencoba memberi perspektif: bagaimana pemain depan ini menjelma menjadi simbol global perlawanan terhadap diskriminasi.
Seharusnya dunia sepak bola larut dalam perayaan sebuah mahakarya tadi malam. Vinicius mencetak gol yang begitu indah hingga pantas menjadi headline di setiap media. Alih-alih, olahraga ini kembali terseret ke rawa busuk yang sama, yang seolah tak kunjung usai. Dugaan rasisme, bantahan, pembelaan, dan ketidakpahaman yang mencengangkan dari mereka yang semestinya lebih tahu, lagi-lagi menjadi tontonan.
Vinicius sudah terlalu sering berada di posisi ini. Kini, tuduhan terbaru mengarah ke gelandang Argentina milik Benfica, Gianluca Prestianni, yang diduga melontarkan kata-kata rasis beberapa menit setelah gol indah itu. Prestianni membantah. Namun dukungan untuk Vinicius justru datang dari rekan setimnya, termasuk Kylian Mbappe yang dengan tegas mengatakan kepada media bahwa ia mendengar istilah rasis diucapkan sebanyak lima kali.
BACA JUGA: Anthony Gordon Cetak Empat Gol, Newcastle United Pesta Gol


