Tiga bulan setelah pintu keluar di Molineux atau Wolves terbuka untuknya, Vitor Pereira kembali ke ruang ganti. Ia meninggalkan Wolves saat tim itu baru mengoleksi dua poin dari sepuluh laga, dan kini ia menatap tantangan baru bersama Nottingham Forest. Namun jejak penyesalan masih membayangi.
Vitor Pereira mengakui bahwa ia seharusnya mundur bahkan sebelum musim dimulai—frustrasi dimulai dari lambannya klub bergerak di bursa transfer, berlanjut pada ketidakpuasan terhadap pemain yang akhirnya didatangkan. Meski begitu, ia tetap menyetujui semua kesepakatan yang ada, termasuk mendesak keras pembelian Jhon Arias, pemain sayap yang akhirnya dijual ke Palmeiras awal bulan ini. Baginya, pilihan pertama tak pernah benar-benar ia dapatkan.
Ada bayangan Nuno Espirito Santo dalam kisah ini. Keduanya pergi karena kecewa dengan dinamika transfer. Tapi antara Pereira dan Evangelos Marinakis, tak boleh ada lagi ruang untuk kejutan atau rahasia. Mereka sudah saling mengenal sejak 2015, ketika Pereira menukangi Olympiakos di bawah kepemilikan Marinakis. Hubungan itu hanya bertahan enam bulan, tapi cukup untuk membawa pulang gelar ganda domestik.
Pereira meninggalkan Olympiakos untuk Fenerbahce pada musim panas yang sama—keputusan yang kini ia sesali. Ia berpindah-pindah klub terlalu cepat, tergoda oleh ambisi menjejakkan kaki di Premier League. Kini, di Forest, ia dituntut untuk memahami kembali pola pikir sang bos. “Dia ambisius. Dia ingin menang. Emosional… Saya mengenalnya dengan sangat baik,” ujar Pereira tentang Marinakis.
“Saya ingat energi dan semangat yang kami ciptakan. Di Yunani, ada semangat membara di dalam diri—mereka suka melihat energi itu. Dia meminta saya untuk menjadi diri sendiri. Dia menyukai cara kami bekerja sama dan memenangkan liga dan piala. Saat itu pertengahan musim dan kami membangun hubungan yang baik. Dia mempercayai pekerjaan saya, saya mempercayai kepribadiannya. Saya pikir kita juga membutuhkan semangat.”


